Posts

How Curiosity Unlocks Empathy

Image
  Photo by   Johannes Plenio   on   Unsplash Have you ever noticed how asking the right question can change the way you see someone? As an instructional designer, I’ve learned that curiosity isn’t just about learning, it’s about understanding. “Is this learning content digestible for my learners?” “Does this course meet its goal?” “Is the concept taught by the SME relevant and clear?” As an instructional designer, these questions run through my mind daily. This curiosity isn’t just about getting the job done it’s about truly understanding the topic, the learners, and the challenges they might face. I vividly recall working on a  computer network  tutorial where the struggle to understand the content mirrored the struggle my learners might encounter. At one point, I felt stuck, but I asked myself:  “If I can’t strive to understand this, how can I help others learn it?”  That accountability pushed me to keep going. Struggling to learn challenging to...

Merasakan Perasaan

Image
Salah satu nasihat paling indah akhir-akhir ini, adalah nasihat yang datang dari Iffa. Nasihat yang datang ketika aku mendadak patah hati. Ketika aku cerita melalui pesan teks, Iffa kemudian mengirimkan ku berbagai pesan, tapi yang bagi ku paling berharga adalah pesan ini: “Rasain sedihnya” Pesan singkat, dua kata saja, tapi membuat pertahanan ku runtuh sekaligus memudahkan ku membangunnya kembali. *** Beberapa bulan sebelum kejadian tersebut, aku tertegun ketika membaca sebuah section buku tulisan Bu Brene Brown. Di bagian tersebut, Bu Brene menjelaskan satu poin penting yang intinya begini: “Ketika merasakan ketidaknyamanan, maka kamu harus berani merasakan perasaan tidak nyaman tersebut.” Nampak sederhana, tetapi bukan kah lebih menyenangkan jika Bu Brene memperbolehkan kita untuk lari atau memanipulasi perasaan tersebut dengan melakukan hal-hal lain yang lebih menyenangkan? Di antara banyaknya pelajaran dari Bu Brene di dalam bukunya, “Imperfection”, bagian ini yang men...

Cerita Orang-Orang

Image
Satu hal yang baru aku temukan kembali: Aku suka sekali menyelami makna tatap dan percakapan di sekitar ku.  Bagi ku, melihat dan mendengar ragam kisah manusia adalah petualangan yang mengarah ke dua direksi - menyelami alam pikir, harap, dan perasaan dari si empunya cerita, serta menjadi pemicu ku untuk menjelajahi alam pikir ku sendiri. Bagi ku, tiap orang adalah akumulasi dari berbagai cerita. Cerita-cerita itu bisa bergenre horor atau komedi; sederhana atau berkelindan; penuh bunga, duri, atau keduanya. Maka baik buruk, salah benar, asik ato gak asik: Apa yang muncul di permukaan, timbul dari perjalanan panjang, yang kita tak pernah sepenuhnya tau rupanya.

Cara Pandang

Image
"Bu gedungnya bagus, gedung apa itu?" tanya ku pada ibu. Hari ini kami mengarungi berbagai arah mata angin untuk memenuhi misi ibu mencari busana. Ibu menjawab, "setiap gedung punya cerita". Sontak aku tertawa. Kalimat yang ibu ucap adalah kata-kata tokoh yang diperankan Nicholas Saputra dalam film terbarunya. Tapi, aku juga tertawa karena secara personal, aku memandang tiap benda punya ceritanya. Jadi mendengar ibu berucap demikian, rasanya kayak recall isi kepala ku akhir2 ini :)) *** Cara ku memandang benda, tempat, dan peristiwa adalah keterampilan yang ingin aku syukuri sampai akhir hayat. Kalau boleh, ingin ku jaga ia tetap menyala selamanya. Bayangkan jika kemana-mana kamu selalu membawa stoples di dalam kepala. Stoples itu bukan berisi biskuit atau kue bawang, stoples itu berisi kata-kata. Dan dalam langkah ku, pikir ku sibuk merangkai prosa tentang tatap, tentang tawa, ataupun tentang noda di tembok seberang.  Kadang desir bisiknya hanya menjadi...

Perspektif Bunga Matahari

Image
Bertahun lalu, mungkin sekitar 8 tahun yang lalu, saya menuliskan status "perspektif bunga matahari" di WhatsApp, tanpa menyematkan makna apa-apa. Di tahun-tahun tersebut saya memang sedang suka mengombinasikan kata. Jadi saat menulis status, ya asal saja. Baru kemudian saya merangkai makna atas frasa tersebut, mengasosiasikan bunga matahari dengan optimisme karena ia fototropisme. Jadi kalau ada yang nanya, saat itu saya sudah punya jawaban. Namun, saat mengambil foto-foto di atas, saya sadar bahwa pada kenyataannya bunga matahari memandang ke banyak arah. Ada yang ke atas, ke depan, ke depan tapi serong sedikit (lagi pula 'depan'-nya juga relatif), dan ada pula yang merunduk. Baru setelah googling, saya sadar bahwa yang dianggap sebagai heliotropisme (bergerak mengikuti arah matahari, dan ya bukam fototropisme) adalah bunga matahari yang masih kuncup. Ia menoleh ke arah matahari, berusaha menyerap cahaya secara optimal, mengayunkan wajahnya mengikuti rit...

Belajar dari Rasa Sakit

 Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu'alaikum teman-teman. Ba'da maghrib tadi, telponan sama Salma. Sambil nunggu Salma makan, aku cerita soal sakit gigi ku dua hari lalu. Malam itu, impaksi graham bungsu ku rasanya sakit sekali. Mungkin kesakitan paling dasyat yang aku rasakan. Hari itu, aku sedih bukan hanya karena sakit atau karena kurang tidur, tetapi juga karena aku belum sepenuhnya bisa mengucapkan dzikir dalam sakit ku. Padahal ketika dalam kondisi sehat, bukan kah kita berencana untuk dapat berdzikir dalam sakit kita? :' Sungguh sakit gigi kemarin mengajarkan aku banyak hal. Salah satunya memang jadi belajar bahwa gigi ku perlu tindakan. Tetapi hal yang menurutku jauh lebih penting, adalah bahwa masih banyak perihal iman, keikhlasan, dan penyerahan diri yang harus aku pelajari. Sakit kemarin bagi ku adalah cara Allah untuk ngingetin aku bahwa masih banyak yang mesti aku benahi. InsyaAllah cerita ini bukan untuk pamer kekurangan ya guys, tetapi untuk jadi reminder kita...

3/11/2022

Bismillahirrahmanirrahim Di sesi Qur'an berapa jam lalu, tertegun ketika baca ayat yang menceritakan kisah Nabi Musa dan ibunya. Di masa yang mencekam, di mana Firaun memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh semua bayi laki-laki, Ibunda Musa terpaksa 'melepas' Musa. Allah mengilhamkan beliau untuk menghanyutkan Musa di sungai Nil.  Pas kepikiran tentang cerita tersebut, aku ngebayangin rasanya jadi Ibunda Nabi Musa. Betapa sedih harus melepaskan buah hatinya. Aku ngebayangin ketika lagi main sama anak temen ku aja, terkadang tumbuh kasih sayang yang ngebuat kita berat untuk berpisah.. padahal ini teh bukan anak saya. Maka pas merenungi kondisi Ibunda Nabi Musa, wah di benak ku "pasti berat banget ya".  Tapi yang lebih 'menampar'-ku adalah bahwa beliau, Ibunda Nabi Musa, akhirnya melakukan apa yang Allah ilhamkan. Ia hanyutkan Nabi Musa AS. di sungai Nil. Padahal beliau enggak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Kalau kita memperhitungkan risiko dan ...