Bukan lagi bahas lagu fourtwnty. Pada dasarnya, kita selalu bergerak dari satu episode kehidupan ke satu episode yang lain. Pada tiap-tiap episode, ada latar, klimaks, dan konfliknya masing-masing. Sampai suatu hari kita jadi terbiasa dengan rupa-rupa hidup dalam episode tersebut. Lalu ternyata sudah waktunya naik level. Naik level. Suatu momen yang melejitkan harapan akan suatu alur hidup yang lebih cerah. Dalam konteks episode hidup baru, berarti ada saja yang berbeda. Apakah ada tokoh baru? protagonis atau antogonis ya? Apakah ada latar baru? Di taman penuh bunga atau kantor kelas menengah? Apakah ada konflik baru? Dicakar kucing atau dipatuk belalang? Naik level berarti episode yang sebelumnya tak kau kenal. Barangkali episode yang tak lagi zona nyaman. Kamu belum kenal konflik yang akan menjadikanmu kuat lagi. Kamu mungkin baru mengenal beberapa bala bantuan, yang hari ini pun kau tak tahu kapan mereka tepat guna. Sejatinya selalu begitu. Kita berpindah. Kita tak konstan. ...
Hidup 28 tahun mengajarkan ku, bahwa sekelilingku adalah diorama. Seperti display museum menampilkan artefak berbagai rupa, orang-orang yang kutemui menampilkan berbagai luka. Bedanya, para kurator museum berusaha menampilkan artefak dengan apik dan mengesankan cerita, sedang manusia berusaha menutupinya -- dengan apik dan mengesankan cerita. Cerita yang berbeda.
"Bu gedungnya bagus, gedung apa itu?" tanya ku pada ibu. Hari ini kami mengarungi berbagai arah mata angin untuk memenuhi misi ibu mencari busana. Ibu menjawab, "setiap gedung punya cerita". Sontak aku tertawa. Kalimat yang ibu ucap adalah kata-kata tokoh yang diperankan Nicholas Saputra dalam film terbarunya. Tapi, aku juga tertawa karena secara personal, aku memandang tiap benda punya ceritanya. Jadi mendengar ibu berucap demikian, rasanya kayak recall isi kepala ku akhir2 ini :)) *** Cara ku memandang benda, tempat, dan peristiwa adalah keterampilan yang ingin aku syukuri sampai akhir hayat. Kalau boleh, ingin ku jaga ia tetap menyala selamanya. Bayangkan jika kemana-mana kamu selalu membawa stoples di dalam kepala. Stoples itu bukan berisi biskuit atau kue bawang, stoples itu berisi kata-kata. Dan dalam langkah ku, pikir ku sibuk merangkai prosa tentang tatap, tentang tawa, ataupun tentang noda di tembok seberang. Kadang desir bisiknya hanya menjadi...
Comments
Post a Comment