Hidup 28 tahun mengajarkan ku, bahwa sekelilingku adalah diorama. Seperti display museum menampilkan artefak berbagai rupa, orang-orang yang kutemui menampilkan berbagai luka. Bedanya, para kurator museum berusaha menampilkan artefak dengan apik dan mengesankan cerita, sedang manusia berusaha menutupinya -- dengan apik dan mengesankan cerita. Cerita yang berbeda.
Assalamu'alaikum! Di tengah baru selesai pandemi, aku dan kegabutanku memaksaku menulis blog tentang apa saja. Sebenernya lately aku punya akun instagram alter sampe 2 akun dan aku kini sering cerita di sana-- karena mudah. Tapi kadang aku ngerasa ada hal-hal sepele yang ingin aku bagikan, ke siapa yang ingin tahu saja wkwk. Baiklah! Cerita ini terinspirasi dari kegiatan memasak sarapan beberapa hari yang lalu. Hari itu, roti gandum di rumah habis, waktunya memutar otak untuk ide sarapan. Kebetulan dua hari sebelumnya aku salah beli pisang. Ibu titip pisang ambon, aku beli pisang mas :) Salah beli pisang berarti menambah jenis makanan di rumah yang sulit habis. Sesungguhnya aku pemakan buah-buahan, tapi pisang membawaku pada kebimbangan. Di satu sisi, pisang kaya akan karbohidrat: berarti tergolong karbo dong? Di sisi lain, dia diletakkan di rumah sebagaimana buah-buahan. Sehinga... akhirnya aku jarang makan pisang di rumah karena... status dia tidak seperti buah-buahan lain. ...
Comments
Post a Comment