Assalamu'alaikum gaes, 2018 aku belom post apapun di blog ini loh :') Sungguh sangat produktif ya HAHAHA. Sekarang aku mau cerita sesuatu yang sebelumnya aku kira cukup disimpan sendiri saja di dalam hati. Tapi setelah baca tulisan Dhita di sini aku jadi pengen nulis kisah ini. Bukan supaya dunia tahu, tapi karena menurut aku kenangan ini sangat konstruktif, membangun aku yang tadinya sedang (kayaknya sih sedikit) luluh lantah di akhir kehidupan kampus. Jadi karena aku suka baca tulisan-tulisan di sini buat bahan refleksi, kayaknya cerita ini patut dijadiin bahan juga. Sebelumnya, kenalin Triana di semester 7: sudah selesai Kerja Praktik (KP) tapi hasil data eksperimennya gak sesuai ekspetasi sehingga dia bingung gimana benerin datanya; ikut satu organisasi, jalanin proker, dan rutin ikut rapat; di kampus kerjanya ngereceh (kalau kamu gak tau, ngereceh artinya bersenda gurau tapi gak lucu) sama teman-teman; pulang kelas kadang bingung sore-sore udah bisa pulang, ke...
Assalamu'alaikum! Di tengah baru selesai pandemi, aku dan kegabutanku memaksaku menulis blog tentang apa saja. Sebenernya lately aku punya akun instagram alter sampe 2 akun dan aku kini sering cerita di sana-- karena mudah. Tapi kadang aku ngerasa ada hal-hal sepele yang ingin aku bagikan, ke siapa yang ingin tahu saja wkwk. Baiklah! Cerita ini terinspirasi dari kegiatan memasak sarapan beberapa hari yang lalu. Hari itu, roti gandum di rumah habis, waktunya memutar otak untuk ide sarapan. Kebetulan dua hari sebelumnya aku salah beli pisang. Ibu titip pisang ambon, aku beli pisang mas :) Salah beli pisang berarti menambah jenis makanan di rumah yang sulit habis. Sesungguhnya aku pemakan buah-buahan, tapi pisang membawaku pada kebimbangan. Di satu sisi, pisang kaya akan karbohidrat: berarti tergolong karbo dong? Di sisi lain, dia diletakkan di rumah sebagaimana buah-buahan. Sehinga... akhirnya aku jarang makan pisang di rumah karena... status dia tidak seperti buah-buahan lain. ...
Comments
Post a Comment