Posts

Cara Pandang

Image
"Bu gedungnya bagus, gedung apa itu?" tanya ku pada ibu. Hari ini kami mengarungi berbagai arah mata angin untuk memenuhi misi ibu mencari busana. Ibu menjawab, "setiap gedung punya cerita". Sontak aku tertawa. Kalimat yang ibu ucap adalah kata-kata tokoh yang diperankan Nicholas Saputra dalam film terbarunya. Tapi, aku juga tertawa karena secara personal, aku memandang tiap benda punya ceritanya. Jadi mendengar ibu berucap demikian, rasanya kayak recall isi kepala ku akhir2 ini :)) *** Cara ku memandang benda, tempat, dan peristiwa adalah keterampilan yang ingin aku syukuri sampai akhir hayat. Kalau boleh, ingin ku jaga ia tetap menyala selamanya. Bayangkan jika kemana-mana kamu selalu membawa stoples di dalam kepala. Stoples itu bukan berisi biskuit atau kue bawang, stoples itu berisi kata-kata. Dan dalam langkah ku, pikir ku sibuk merangkai prosa tentang tatap, tentang tawa, ataupun tentang noda di tembok seberang.  Kadang desir bisiknya hanya menjadi...

Perspektif Bunga Matahari

Image
Bertahun lalu, mungkin sekitar 8 tahun yang lalu, saya menuliskan status "perspektif bunga matahari" di WhatsApp, tanpa menyematkan makna apa-apa. Di tahun-tahun tersebut saya memang sedang suka mengombinasikan kata. Jadi saat menulis status, ya asal saja. Baru kemudian saya merangkai makna atas frasa tersebut, mengasosiasikan bunga matahari dengan optimisme karena ia fototropisme. Jadi kalau ada yang nanya, saat itu saya sudah punya jawaban. Namun, saat mengambil foto-foto di atas, saya sadar bahwa pada kenyataannya bunga matahari memandang ke banyak arah. Ada yang ke atas, ke depan, ke depan tapi serong sedikit (lagi pula 'depan'-nya juga relatif), dan ada pula yang merunduk. Baru setelah googling, saya sadar bahwa yang dianggap sebagai heliotropisme (bergerak mengikuti arah matahari, dan ya bukam fototropisme) adalah bunga matahari yang masih kuncup. Ia menoleh ke arah matahari, berusaha menyerap cahaya secara optimal, mengayunkan wajahnya mengikuti rit...

Belajar dari Rasa Sakit

 Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu'alaikum teman-teman. Ba'da maghrib tadi, telponan sama Salma. Sambil nunggu Salma makan, aku cerita soal sakit gigi ku dua hari lalu. Malam itu, impaksi graham bungsu ku rasanya sakit sekali. Mungkin kesakitan paling dasyat yang aku rasakan. Hari itu, aku sedih bukan hanya karena sakit atau karena kurang tidur, tetapi juga karena aku belum sepenuhnya bisa mengucapkan dzikir dalam sakit ku. Padahal ketika dalam kondisi sehat, bukan kah kita berencana untuk dapat berdzikir dalam sakit kita? :' Sungguh sakit gigi kemarin mengajarkan aku banyak hal. Salah satunya memang jadi belajar bahwa gigi ku perlu tindakan. Tetapi hal yang menurutku jauh lebih penting, adalah bahwa masih banyak perihal iman, keikhlasan, dan penyerahan diri yang harus aku pelajari. Sakit kemarin bagi ku adalah cara Allah untuk ngingetin aku bahwa masih banyak yang mesti aku benahi. InsyaAllah cerita ini bukan untuk pamer kekurangan ya guys, tetapi untuk jadi reminder kita...

3/11/2022

Bismillahirrahmanirrahim Di sesi Qur'an berapa jam lalu, tertegun ketika baca ayat yang menceritakan kisah Nabi Musa dan ibunya. Di masa yang mencekam, di mana Firaun memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh semua bayi laki-laki, Ibunda Musa terpaksa 'melepas' Musa. Allah mengilhamkan beliau untuk menghanyutkan Musa di sungai Nil.  Pas kepikiran tentang cerita tersebut, aku ngebayangin rasanya jadi Ibunda Nabi Musa. Betapa sedih harus melepaskan buah hatinya. Aku ngebayangin ketika lagi main sama anak temen ku aja, terkadang tumbuh kasih sayang yang ngebuat kita berat untuk berpisah.. padahal ini teh bukan anak saya. Maka pas merenungi kondisi Ibunda Nabi Musa, wah di benak ku "pasti berat banget ya".  Tapi yang lebih 'menampar'-ku adalah bahwa beliau, Ibunda Nabi Musa, akhirnya melakukan apa yang Allah ilhamkan. Ia hanyutkan Nabi Musa AS. di sungai Nil. Padahal beliau enggak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Kalau kita memperhitungkan risiko dan ...

#MemaknaiUlang

 "Awakening to faith is not a one time event, but a continuously unfolding reality. The journey of faith is not a race, but a marathon of love that each person walks at different pace."- A. Helwa Quotes tersebut merupakan awal dari buku A. Helwa "Secrets of devine love journal", meskipun saya belum selesai baca 1 bab dan mungkin saja akan agree to disagree sama isi bukunya, but for this quote.. aku agree banget. Sebagai anak yang lahir dari keluarga islam, dan belajar agama dari orang tua dan sekolah karena memang begitu templatenya, saya dulu ga ngerasa hidup dengan spirit islam. Saya bahkan cenderung skeptis dengan konsep perasaan dekat dengan Allah. Waktu kecil, saya berpkir bahwa konsep pahala-dosa adalah sekadar gamifikasi yang membuat hidup punya tujuan. Ya, supaya skor kita tinggi di mata Allah. Lalu waktu kecil saya berpikir, barang siapa yang berhasil punya skor tinggi lah yang akan masuk surga. Cukup jarang saya amaze dengan karunia Allah, apalagi merasa m...

Keterampilan dari belajar

Bismillahirrahmanirrahim, Salam sejahtera readers 🙂 Saya sudah lama sekali tidak menulis blog yang ditujukan untuk berbagi, seringnya hanya sekadar menjadi ruang refleksi untuk saya baca lagi dan lagi. Tapi salah satu online course yang kemarin saya ikuti memantik saya untuk kembali menulis. Sebuah topik course yang terlihat sangat dasar, tapi saking dasarnya bisa jadi ia begitu fudamental. Nama couse-nya: developing a learning mindset. Course tersebut saya akses dari LinkedIn learning, kebetulan saya sedang dapat free-trial 😀 Banyak hal menarik dari course tersebut, salah satunya adalah bahwa ketika kita belajar, kita akan mendapatkan 3 skill. Apa saja 3 skill tersebut? Knowledge Transferable skill Traits Mari kita bahas satu persatu KNOWLEDGE Knowledge adalah pengetahuan. Sebagaimana artinya secara harfiah, pengetahuan yang kita dapatkan saat belajar, itulah skill yang kita dapatkan. Hal ini menyebabkan semakin beragam atau semakin dalam ilmu yang kita timba, semakin banyak pula pe...

Triana first career

Assalamu'alaikum!  Bulan ini, genap setahun aku bekerja dalam industri teknologi pendidikan. Tepatnya dalam jalan karier sebagai instructional designer . Panjang bet weh namanya, mari kita singkat menjadi ID. Karena aku mulai kerja di kala pandemi, aku agak jarang harus interaksi sama teman lama atau orang baru lalu harus bercerita tentang pekerjaanku. Karena menurutku: wah PR juga nih jelasinnya. Pertama, karena profesi ini tidak umum didengar (paling engga, sebelum interview kerja di kantor ku skrg aku teh gatau ada profesi kayak gini hehe). Kedua, karena ada potensi ditanya-tanya,"anak biologi kenapa jadi ID?".  Tapi sama kayak dulu masuk biologi dan ku santai aja kalo orang bingung sama pilihan jurusanku, sepertinya menjelaskan tentang kenapa aku akhirnya jadi ID juga akan jadi momen ngebingungin yang menyenangkan wkwk. Anyway, semua ini bermula dari nyari kerjaan di hari Idul Adha. Pagi-pagi sebelum pada sholat ied, orang lain mungkin fokus beres-beres diri atau reru...