Posts

3/11/2022

Bismillahirrahmanirrahim Di sesi Qur'an berapa jam lalu, tertegun ketika baca ayat yang menceritakan kisah Nabi Musa dan ibunya. Di masa yang mencekam, di mana Firaun memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh semua bayi laki-laki, Ibunda Musa terpaksa 'melepas' Musa. Allah mengilhamkan beliau untuk menghanyutkan Musa di sungai Nil.  Pas kepikiran tentang cerita tersebut, aku ngebayangin rasanya jadi Ibunda Nabi Musa. Betapa sedih harus melepaskan buah hatinya. Aku ngebayangin ketika lagi main sama anak temen ku aja, terkadang tumbuh kasih sayang yang ngebuat kita berat untuk berpisah.. padahal ini teh bukan anak saya. Maka pas merenungi kondisi Ibunda Nabi Musa, wah di benak ku "pasti berat banget ya".  Tapi yang lebih 'menampar'-ku adalah bahwa beliau, Ibunda Nabi Musa, akhirnya melakukan apa yang Allah ilhamkan. Ia hanyutkan Nabi Musa AS. di sungai Nil. Padahal beliau enggak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Kalau kita memperhitungkan risiko dan ...

#MemaknaiUlang

 "Awakening to faith is not a one time event, but a continuously unfolding reality. The journey of faith is not a race, but a marathon of love that each person walks at different pace."- A. Helwa Quotes tersebut merupakan awal dari buku A. Helwa "Secrets of devine love journal", meskipun saya belum selesai baca 1 bab dan mungkin saja akan agree to disagree sama isi bukunya, but for this quote.. aku agree banget. Sebagai anak yang lahir dari keluarga islam, dan belajar agama dari orang tua dan sekolah karena memang begitu templatenya, saya dulu ga ngerasa hidup dengan spirit islam. Saya bahkan cenderung skeptis dengan konsep perasaan dekat dengan Allah. Waktu kecil, saya berpkir bahwa konsep pahala-dosa adalah sekadar gamifikasi yang membuat hidup punya tujuan. Ya, supaya skor kita tinggi di mata Allah. Lalu waktu kecil saya berpikir, barang siapa yang berhasil punya skor tinggi lah yang akan masuk surga. Cukup jarang saya amaze dengan karunia Allah, apalagi merasa m...

Keterampilan dari belajar

Bismillahirrahmanirrahim, Salam sejahtera readers 🙂 Saya sudah lama sekali tidak menulis blog yang ditujukan untuk berbagi, seringnya hanya sekadar menjadi ruang refleksi untuk saya baca lagi dan lagi. Tapi salah satu online course yang kemarin saya ikuti memantik saya untuk kembali menulis. Sebuah topik course yang terlihat sangat dasar, tapi saking dasarnya bisa jadi ia begitu fudamental. Nama couse-nya: developing a learning mindset. Course tersebut saya akses dari LinkedIn learning, kebetulan saya sedang dapat free-trial 😀 Banyak hal menarik dari course tersebut, salah satunya adalah bahwa ketika kita belajar, kita akan mendapatkan 3 skill. Apa saja 3 skill tersebut? Knowledge Transferable skill Traits Mari kita bahas satu persatu KNOWLEDGE Knowledge adalah pengetahuan. Sebagaimana artinya secara harfiah, pengetahuan yang kita dapatkan saat belajar, itulah skill yang kita dapatkan. Hal ini menyebabkan semakin beragam atau semakin dalam ilmu yang kita timba, semakin banyak pula pe...

Triana first career

Assalamu'alaikum!  Bulan ini, genap setahun aku bekerja dalam industri teknologi pendidikan. Tepatnya dalam jalan karier sebagai instructional designer . Panjang bet weh namanya, mari kita singkat menjadi ID. Karena aku mulai kerja di kala pandemi, aku agak jarang harus interaksi sama teman lama atau orang baru lalu harus bercerita tentang pekerjaanku. Karena menurutku: wah PR juga nih jelasinnya. Pertama, karena profesi ini tidak umum didengar (paling engga, sebelum interview kerja di kantor ku skrg aku teh gatau ada profesi kayak gini hehe). Kedua, karena ada potensi ditanya-tanya,"anak biologi kenapa jadi ID?".  Tapi sama kayak dulu masuk biologi dan ku santai aja kalo orang bingung sama pilihan jurusanku, sepertinya menjelaskan tentang kenapa aku akhirnya jadi ID juga akan jadi momen ngebingungin yang menyenangkan wkwk. Anyway, semua ini bermula dari nyari kerjaan di hari Idul Adha. Pagi-pagi sebelum pada sholat ied, orang lain mungkin fokus beres-beres diri atau reru...

Self Reflection Journal #2: Enjoy!

Assalamu'alaikum. Apa yang membuat mu kuat ketika melewati hari-hari yang berat? Apa yang membuat mu sukarela menerima yang kau punya? Apa yang membuat mu bangkit dari sakitnya jatuh dalam kegagalan? Jawab sendiri ya jangan tengok kiri-kanan (buat apa juga?) *** Bagiku, jawaban atas pertanyaan ini ada banyak ragamnya. Tergantung mood  dan kondisi otak ku sedang berceramah tentang apa wkwk. Yang pasti, dan pastinya, adalah karena aku selalu punya Allah. Aku tahu apa yang Ia gariskan menjadi takdirku, pasti yang terrrrrbhaik! p.s.: bukan yang termudah. Ragam jawaban lainnya adalah:  - menerimanya; dan - menyukainya *** Bagiku, menyukai sesuatu adalah kuntji. Aku seringkali melibatkan faktor "aku suka itu!" dalam membuat keputusan Misalnya, jurusan, pekerjaan, order go-food, atau memilih buku apa yang ingin aku baca selanjutnya Jujur, aku gak merekomendasikan cara ini pada setiap orang. Tentu ada orang-orang yang terlahir rasional dan tumbuh besar secara rasional. Dan rasion...

Self Reflection Jurnal #1: Intro

Assalamu'alaikum Dalam kolom form registrasi atau obrolan-obrolan semiformal, aku seringkali bercerita bahwa hobiku adalah menulis. Biasanya aku sandingkan hobi tersebut dengan hobi lain, seperti membaca, menggambar, atau yang teranyar adalah mencuci piring. Kadang kala, di sesi berpikir, aku suka bertanya-tanya: "Apakah menulis benar-benar hobiku?". Pertanyaan ini muncul karena aku bisa memiliki jeda yang cukup lama dari satu karya ke karya lainnya (dan aku tidak apa-apa), aku bisa merasa beratt sekali untuk menulis satu buah artikel, aku seringkali lebih capek saat menyunting kata daripada mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain, dan aku gak pernah benar-benar menerbitkan tulisanku (selain di media sosial).. sebagaimana sebagian teman-teman sebaya ku yang menyatakan dirinya suka menulis. Tapi setelah banyak argumen yang aku ajukan untuk menantang diriku sendiri, sesi berpikir lalu akan beralih ke topik-topik berikutnya. Dan dalam khidmatnya bercengkrama dengan pikiran, gak...

Self-Counseling Session

 Assalamu'alaikum! Siapa yang di sini punya kebiasaan untuk menerjemahkan emosi diri? Itu aku! hehe Setelah punya lebih banyak teman, aku baru mengerti kalau orang menyikapi emosinya dengan cara yang beragam. Ada yang harus mengekspresikannya, ada yang pintar menyimpannya rapat-rapat, ada yang sekadar harus dituangkan dalam cerita, atau memilih untuk tidak ambil pusing tentangnya.  Tapi bagiku, emosi ku harus diterjemahkan. Dipereteli hingga akar-akarnya. Engga selalu harus disampaikan, aku cuman ingin tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Mungkin dahulu kala, mekanisme itu aku gunakan untuk bisa retas di dunia. Agar cepat-cepat tahu apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi masalah. Tapi lama-kelamaan ia jadi kebiasaan. Ketika pikiranku sedang begitu gelisan atau mengawang-awang, pertanyaan dari hati "kamu kenapa Han? ayo sini cerita" adalah kata-kata yang membuat ku kembali berpijak. Paling tidak saat itu aku ingat bahwa ada yang sedang tidak beres di semesta pikiranku...