Posts

Showing posts with the label cerpen

cerpen: 3 inspirasi

3 Inspirasi Namaku Prila Amelia, aku biasa dipanggil Amel sekarang ini, namun nama kecilku adalah Prila. Dan sore itu, aku duduk di bawah sebuah pohon teduh. Pohon yang penuh dengan sejuta kenanganku bersama Ana. Masih dapat jelas terlihat sebuah ukiran bertuliskan “Ana dan Prila” sebuah ukiran yang selalu menjadi semangat terbesarku dalam berprestasi. Aku begitu menyayangi Ana. Dia adalah orang ketiga paling menginspirasikanku setelah ibu dan ayahku. Dia adalah seoarang anak yang manis, pintar, dan tak pernah sekalipun menyakitiku. Dia punya cita-cita besar sejak ditinggal oleh ibunya yang seorang penulis, dia ingin menjadi penulis juga untuk melanjutkan apa yang ibunya impikan. Sungguh dialah sahabat terbaik dalam hidupku. Namun kini aku telah kehilangan dirinya. Sejak umur 6 tahun kami harus berpisah. Ia pergi begitu saja disaat aku sedang dirawat di rumah sakit. Ayah pernah bilang, dia harus pindah ke Bandung bersama keluarganya. Sungguh aku tak pernah lagi bertemu Ana. Seri...

cerpen: aku tak membencinya lagi

Aku Tak Membencinya Lagi Kamis, 6 Mei 2010 “apa yang kak Defya Tanesia rasakan tentang Indonesia ?” Tanya seorang adik kelasku, yang sedang mewancarai ku untuk tugas sekolah. “hmmm ya begitulah, aku merasa negeri ini baik dan berpotensi, dek.” Hanya kebohongan itulah yang dapat ku katakan. Namun sebenarnya aku begitu memandang rendah negeri ini. Korupsi, kemiskinan, dan produk luar yang kualitasnya lebih oke, yang membuatku begitu benci pada negeriku ini. Bahkan namaku sendiri yaitu Defya Tanesia tak pernah ku jelaskan artinya karena kebencianku akan negri ini. Dan hanya kebohonganlah yang dapat ku ucapkan agar membuat adik kelasku memandang ku bahwa aku cinta negeri ini. “oooh begitu ya kak, oh ya kak Defya apa kakak punya tips supaya bisa banyak berprestasi seperti kakak? Misalnya bagaimana supaya bisa menang lomba pidato?” Tanya adik itu lagi. “yang penting percaya diri dan jangan gugup, dan banyaklah berlatih sebelum perlombaan.” Jawabku ramah. “oooh begitu, pantas saja...